REVIEW NOVEL
KHADIJAH - Ketika Rahasia Mim Tersingkap
#KMC8
#BacaBuku
Judul : Khadijah – Ketika Rahasia Mim Tersingkap
Penulis : Sibel Eraslan
Penerjemah : Ahmad Saefudin
Penerbit : Kaysa Media
Tebal buku : 388 Halaman
ISBN : 978-979-1479-63-9
“Merasakan cinta tanpa perlu ada tanggung jawab atas kata, beban kalimat, dan rangkaian huruf. Seperti perempuan lain, Khadijah tentu ingin mendengarkan apa yang dia cintai, sukai dan akui. Namun, Gunung Hira mengajarkan sesuatu yang berbeda tentang cinta. Merasakan daripada mendengarkan. Saling memandang daripada berbicara.”
Ketika Rahasia Mim Tersingkap bercerita tentang kehidupan Khadijah sebelum menikah dengan Rasulullah, sesudah menikah dengan Rasulullah hingga ajal menjemputnya. Diawali dari kisah lahirnya Khadijah, yang kita tahu bahwa keluarganya begitu terpandang, terhormat di Mekkah. Dikisah selanjutnya diceritakan tentang pernikahan Khadijah dengan Abu Hala bin Zurara.
Kisah Khadijah ini sukses membuat saya jatuh hati, dengan penyampaian yang dapat dipahami setiap alurnya, hingga membuat para pembaca begitu menikmati setiap halamannya. Kisah inspiratif untuk para wanita di era milineal ini, menjadi salah satu condongan akhlak dan kehidupan di masa sekarang.
Khadijah memang harus mengatur sendiri bisnisnya. Urusan bisnis ini di mana-mana selalu sama, penuh dengan perusuh. Hal itu memang menjadi tidak mudah bagi seorang janda. Sering kali para pedagang atau karyawan yang diminta mengurusi harta dagangannya justru membuatnya merugi. – hlm. 17
Ketika melahap ke tengah cerita kisahnya dengan Rasulullah setelah dirinya menjada, membuat saya tertegun, kisah cinta yang tidak biasa. Keikhlasan Khadijah dalam memeluk agama Islam yang menjadi perempuan pertama, lalu romantisnya Rasulullah dalam membina rumah tangga, membuat siapa pun akan berharap mendapatkan pasangan sepertinya, kisah itu terkemas dengan begitu apiknya.
Sebenarnya kesan yang paling bermakna itu ada di halaman tengah menuju akhir, di sana dijelaskan secara rinci bagaimana proses kehidupan rumah tangga Rasulullah dan Khadijah, diawali dengan beberapa perang, mendapatkan wahyu, hingga diberikan amanah beberapa putra putri, tapi saat itu Qasim putra laki-lakinya sakit, hingga meninggal dunia.
Teriakan “anakku” dari hatinya mengungkapkan kesedihan Khadijah. Putra mungilnya terbang seperti kepompong yang telah berubah menjadi kupu-kupu, laksana air yang jatuh dari telapak tangan.—hlm. 219
Di akhir cerita disuguhkan dengan kisah perjuangan Rasulullah dengan seluruh cacian serta kemiskinan, bukan hanya itu, di sini pun tertulis kisah perpisahan Rasulullah dengan Khadijah, Khadijah yang lebih dulu dipanggil-Nya.
Meskipun hidupnya selalu dipenuhi dengan ancaman, Khadijah tak pernah sekalipun melewatkan pergi ke Kakbah dan salat di sana bersama sang suami. Bahkan, meski ancaman kematian datang mendera, ia dengan gigih dan berani tidak beranjak selangkah pun dari sisi suaminya.—hlm. 336






0 Comments